Boltim, Buanatotabuan.co — Wakil Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Argo V. Sumaiku bersama tim penilai Aku Hatinya Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tingaka Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Desa Bongkudai Timur, Kecamatan Mooat, Selasa (26/08).

Kunjungan ini dalam rangka evaluasi dan memeberikan dukunagan penuh bagi gerakan yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Argo menekankan bahwa gerakan PKK tidak hanya sekadar rutinitas, tetapi wujud nyata kepedulian masyarakat dalam menciptakan keluarga mandiri. “Pemanfaatan lahan pekarangan dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan gizi keluarga sekaligus menopang ekonomi rumah tangga,” ujarnya.
Program Aku Hatinya PKK sendiri merupakan singkatan dari Amalkan dan Kukuhkan Halaman Asri, Teratur, Indah, dan Nyaman. Melalui program ini, masyarakat diajak menata pekarangan rumah agar lebih produktif, dengan menanam sayuran, tanaman obat keluarga, hingga bahan pangan yang bisa dimanfaatkan sehari-hari.
Tak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, program ini juga mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama dari lingkup terkecil, yakni keluarga.

Kehadiran Wakil Bupati sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung gerakan PKK di tingkat desa. Argo menyebut, desa-desa di Boltim memiliki potensi besar dalam mengembangkan program ini, apalagi sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian. “Kalau dikelola dengan baik, pekarangan bisa jadi sumber gizi, ekonomi, dan bahkan inspirasi bagi desa lain,” ujarnya.
Acara penilaian ini juga dimanfaatkan masyarakat Desa Bongkudai Timur untuk menampilkan kreativitas dan inovasi mereka dalam memanfaatkan pekarangan. Berbagai tanaman sayuran, toga, hingga produk olahan lokal dipamerkan sebagai bukti keseriusan mereka dalam mendukung gerakan PKK.
Momentum ini bukan sekadar lomba, melainkan langkah nyata menuju kemandirian desa. Dengan dukungan pemerintah daerah, diharapkan gerakan ini mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga dan sekaligus menjadi model pemberdayaan masyarakat di Bolaang Mongondow Timur.(***)














